Pada edisi lalu, Redaksi telah mengetengahkan sebuah materi ‘Bergaullah dengan Orang-orang Baik (1)’, pada kesempatan kali ini, Kami akan membawakan edisi kedua. Selamat menyimak!

– – – – – – – –

Bismillah, segala puji hanya milik Allah subhanahu wa ta’ala. Shalawat beriring salam semoga senantiasa tercurahkan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, beserta keluarga, sahabat-sahabat dan orang-orang yang senantiasa istiqomah mengikutinya dengan sebaik-baiknya hingga hari kiamat.

Ikhwatiy fillah yang dimuliakan Allah ‘azza wa jalla, kita telah mengetahui bahwasanya Allah ta’ala dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memerintahkan kita untuk bergaul dengan orang-orang baik yang senantiasa menjalankan ketaatan kepada Allah ta’ala, dimana hubungan yang dibangun di atas cinta dan ketaatan kepada Allah merupakan sebab mendapatkan kecintaan, keridhaan dan pahala yang melimpah dari Allah ta’ala serta berhak mendapatkan keutamaan baik di dunia maupun di akhirat.

Adapun keutamaan di dunia yang telah disebutkan pada edisi yang lalu adalah:

a). Mendapat cinta Allah subhanahu wa ta’ala.

b). Merasakan manisnya iman.

c). Allah subhanahu wa ta’ala akan memuliakannya.

d). Senantiasa mendapatkan kebaikan yang tak terhingga.

Maka pada edisi kali ini kita akan membahas keutaman di akhirat yang akan diraih oleh orang yang bergaul dengan orang-orang yang baik. Semoga bermanfaat.

 

Keutamaan di akhirat

Seseorang yang membangun hubungan sosialnya berdasarkan cinta dan ketaatan kepada Allah subhanahu wa ta’ala, maka ia akan mendapatkan keutamaan-keutamaan yang besar di akhirat, diantaranya:

Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda:

“Allah berfirman: ‘Orang-orang yang saling mencintai karena kebesaran-Ku berada di bawah naungan ‘arsy-Ku pada hari yang tiada naungan kecuali naungan-Ku.’” (HR. Muslim, Malik, Ahmad dan ath-Thabrani)

Beliau juga bersabda:

إِنَّ اللَّهَ يَقُوْلُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ: أَيْنَ الْمُتَحَابُّوْنَ بِجَلاَلِيْ الْيَوْمَ أُظِلُّهُمْ فِي ظِلِّيْ يَوْمَ لاَظِلَّ إِلاَّ ظِلِّيْ.

“Sesungguhnya Allah berfirman pada hari kiamat: “Dimana orang-orang yang saling mencintai karena keagungan-Ku, pada hari ini Aku akan naungi mereka pada hari yang tiada naungan melainkan naungan-Ku.” (HR. Muslim)

Sungguh bahagia orang-orang yang berteman dengan hamba Allah yang shalih, tatkala matahari berada beberapa mil di atas kepala, manusia dalam keadaan telanjang, tak beralas kaki dan berdesak-desakan, tiada tempat untuk berteduh, namun orang-orang yang saling mencintai karena Allah ‘azza wa jalla berada di bawah naungan-Nya. Semoga kita semua termasuk golongan mereka.

2). Pada hari kiamat dia berada diatas mimbar dari cahaya.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Wahai manusia, dengarkan dan pahamilah; ketahuilah bahwa Allah memiliki para hamba yang mereka itu bukan para nabi ataupun syuhada (orang yang mati syahid). Para nabi dan syuhada ingin seperti mereka karena tempat dan kedekatan mereka kepada Allah.”

Seseorang badui bertanya:“Wahai Rasulullah, tolong sifatkan mereka kepada kami.”

Rasulullah lantas tersenyum mendengar ucapan lelaki badui tersebut dan bersabda: “Mereka adalah orang-orang yang tidak dikenal dan asing, mereka tidak memiliki tali kekerabatan satu sama lain, mereka saling mencintai karena Allah dan menjadi satu barisan. Allah menyediakan mimbar-mimbar dari cahaya untuk mereka sebagai tempat duduk mereka dan menjadikan wajah dan pakaian mereka bercahaya. Pada hari kiamat manusia diliputi rasa takut namun mereka tidak, mereka adalah wali-wali Allah, mereka tidak merasa takut dan tidak pula bersedih hati.” (HR. Ahmad)

3). Bersama orang-orang yang dicintainya meski ia tidak beramal seperti mereka.

Allah ‘azza wa jalla berfirman:

“Dan orang-orang yang beriman, dan yang anak cucu mereka mengikuti mereka dalam keimanan, Kami hubungkan anak cucu mereka dengan mereka, dan Kami tiada mengurangi sedikitpun dari pahala amal mereka. Setiap manusia terikat dengan apa yang dikerjakannya.” (QS. ath-Thuur: 21)

Dalam ayat ini Allah menerangkan bahwa keturunannya yang mengikuti keimanan, akan dipertemukan dan digabung bersamanya oleh Allah kelak di surga.

Dari Anas radhiyallahu ‘anhu, dia berkata: “Seorang lelaki mendatangi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan berkata: ‘Wahai Rasulullah, kapankah datangnya kiamat?’Beliau menjawab: “Apa yang telah kamu persiapkan untuk menghadapinya?” Dia menjawab: ‘Cinta pada Allah dan Rasul-Nya.’ Kemudian beliau bersabda: “Sesungguhnya kamu akan bersama dengan orang yang kamu cintai.”

Lalu Anas berkata: “Sesungguhnya kami tidak merasakan setelah Islam kegembiraan yang lebih hebat dari ucapan Rasulullah: “Sesungguhnya kamu akan bersama dengan orang yang kamu cintai.””

Anas melanjutkan: “Sesungguhnya aku mencintai Allah dan Rasul-Nya, serta Abu Bakar dan Umar. Aku berharap bisa berkumpul dengan mereka meski aku belum beramal seperti mereka.” (HR. Muslim)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

الْمَرْءُ مَعَ مَنْ أَحَبَّ.

“Seseorang itu akan bersama orang yang dia cinta” (HR. Bukhori dan Muslim)

Juga sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam:

لاَيُحِبُّ رَجُلٌ قَوْمًا إِلاَّ حُشِرَ مَعَهُمْ.

“Tidaklah seseorang mencintai suatu kaum melainkan dia akan dikumpulkan bersama mereka.” (HR. ath-Thabrani dan dishahihkan oleh al-Albani dalam Shohih at-Targhib)

4). Menempatkannya di tempat yang tinggi di surga.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Sesunggnuhnya di surga terdapat pilar-pilar dari yakut, diatasnya ada kamar-kamar dari zamrud. Kamar-kamar ini memiliki pintu yang terbuka dan bersinar seumpama mutiara.” Para sahabat bertanya: “Wahai Rasulullah, siapakah penghuninya?” Beliau menjawab: “Orang-orang yang saling mencintai karena Allah, orang-orang yang duduk bersama karena Allah dan orang-orang yang bersua karena Allah.” (HR. al-Bazzar, namun hadits ini dilemahkan oleh al-Albani dalam at-Targhib dan dihasankan oleh para pentahqiq at-Targhib)

 

Sebagai wujud kasih sayang Allah ta’ala terhadap hamba-Nya, Allah benar-benar mengarahkan hamba-Nya agar mendapatkan keutamaan tersebut. Hal ini dapat diketahui dengan jelas dari firman-Nya yang melarang hamba-Nya dari kecenderungan bergaul dengan orang-orang zhalim.

Firman-Nya:

“Dan janganlah kamu cenderung kepada orang-orang yang zhalim yang menyebabkan kamu disentuh api neraka, dan sekali-kali kamu tiada mempunyai seorang penolongpun selain daripada Allah, kemudian kamu tidak akan diberi pertolongan.” (QS. Hud: 113)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

لاَ تُصَاحِبْ إِلاَّ مُؤْمِنًا وَلاَ يَأْكُلْ طَعَامَكَ إِلاَّ تَقِيٌّ.

“Janganlah kamu bergaul kecuali dengan seorang mukmin dan janganlah sampai menyantap makananmu kecuali orang yang bertakwa.” (HR. Abu Dawud, Ahmad dan at-Tirmidzi)

Dan semoga Allah subhanahu wa ta’ala merahmati seorang penyair yang telah mengingatkan kita dengan syairnya:

وَمَنْ يَجْعَلِ الْمَعْرُوْفَ فِي غَيْرِ أَهْلِهِ  يَعُدْ حَمْدُهُ ذَمًّا عَلَيْهِ وَ يَنْدَمِ

Barang siapa berbuat baik terhadap orang yang tidak berhak atasnya

Niscaya celaan dan penyesalan akan menjadi buah dari kebaikannya

Ya Allah, cintakan hati kami kepada orang-orang shalih, dan gabungkan kami beserta mereka di dunia dalam keridhaan-Mu dan di akhirat dalam surga-Mu.

Subhanakallahumma rabbana wabihamdika, asyhadu alla ilaha illa anta, astaghfiruka waatubu ilaika, waakhiru da’wana anil hamdulillahi rabbil ‘alamin.

Wa shallallahu ‘ala nabiyyina muhammad wa sallama tasliman katsiron.

 

[Oleh: Ahmad Wafiy Bambang Prasetyo]

 

DOWNLOAD BULETIN_AL-IMAN_TAHUN_2011-2012/01_TAHUN_PERTAMA/Edisi_40_No.40_Th.01_Dzulqo’dah_1432H_-_BERGAULLAH_DENGAN_ORANG-ORANG_BAIK

Leave a Reply