MARI BERPUASA ENAM HARI DI BULAN SYAWAL

—————————————————
———————–————————-

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْصَامَرَمَضَانَثُمَّأَتْبَعَهُسِتًّامِنْشَوَّالٍكَانَكَصِيَامِالدَّهْرِ.

Barangsiapa berpuasa Ramadhan kemudian ia berpuasa enam hari pada bulan syawal, maka seperti berpuasa setahun penuh.” (HR. Muslim)

—————————————————————————————————

Bulan Ramadhan telah berlalu meninggalkan kita. Sebulan penuh kaum muslimin mengisi hari-hari bulan yang penuh berkah ini dengan ketaatan kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Mereka berlomba-lomba untuk mendapatkan pahala dan kemuliaan dengan puasa, sholat malam, sedekah, membaca al-Qur`an dan berbagai amal ibadah lainnya.

Di penghujung bulan Ramadhan seluruh umat Islam di berbagai penjuru bumi serentak mengumandangkan takbir menyambut hari raya idul fitri, satu moment yang hanya datang satu kali dalam setahun.

Namun, di tengah kegembiraan ini terselip rasa sedih meninggalkan bulan Ramadhan, terasa berat untuk berpisah dengan suatu bulan yang barangsiapa berpuasa padanya dengan penuh keimanan dan mengharap balasan hanya dari Allah ta’ala niscaya akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْصَامَرَمَضَانَإِيْمَاناًوَاحْتِسَاباًغُفِرَلَهُمَاتَقَدَّمَمِنْذَنْبِهِ.

Barangsiapa berpuasa pada bulan ramadhan karena iman dan mengharap balasan dari Allah niscaya akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (HR. Bukhari dan muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu)

Namun bulan demi bulan akan terus berganti dengan kehendak Allah ta’ala. Tak kuasa bagi manusia untuk menghalangi laju perputaran siang dan malam atau hari demi hari. Dan setelah berpisah dengan bulan puasa yang penuh berkah, kaum muslimin dihadapkan dengan bulan yang di dalamnya ada syariat puasa yang memiliki faedah berharga. Bulan tersebut adalah bulan Syawal, dan puasa yang dimaksud adalah puasa enam hari pada bulan Syawal.

SAMA SEPERTI BERPUASA SETAHUN PENUH

Pada bulan Syawal ini Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memberikan petunjuk kepada umatnya untuk melaksanakan puasa sunah yang dapat menambah balasankebaikan, yaitu puasa enam hari di bulan Syawal. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mengabarkan akan keutamaan puasa ini dalam sabda beliau:

مَنْصَامَرَمَضَانَثُمَّأَتْبَعَهُسِتًّامِنْشَوَّالٍكَانَكَصِيَامِالدَّهْرِ.

Barangsiapa berpuasa Ramadhan kemudian ia berpuasa enam hari pada bulan syawal, maka dia seperti berpuasa setahun penuh.” (HR. Muslim)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda:

مَنْصَامَسِتَّةَأَيَّامٍبَعْدَالْفِطْرِكَانَتَمَامَالسَّنَةِ، (مَنْجَاءَبِالْحَسَنَةِفَلَهُعَشْرُأَمْثَالِهَا).

Barangsiapa berpuasa enam hari setelah hari raya idul fitri, maka dia seperti berpuasa setahun penuh, (siapa mengerjakan satu kebaikan, maka baginya sepuluh kebaikan yang semisalnya)” (HR. Ibnu Majah dan dishahihkan oleh Syaikh al-Albani rahimahullahu dalam kitabnya Irwa’ul Ghalil)

Hadits ini menunjukkan bahwa satu kebaikan akan dibalas dengan sepuluh kebaikan yang semisalnya. Puasa Ramadhan selama satu bulan sama dengan berpuasa sepuluh bulan, sedangkan puasa enam hari di bulan Syawal seperti puasa selama dua bulan. Jadi, barangsiapa berpuasa Ramadhan kemudian diikuti dengan puasa enam hari di bulan Syawal, maka dia seperti berpuasa selama setahun penuh.

Hanya milik Allah segala puji dan syukur, betapa Allah ta’ala telah memberikan yang terbaik untuk hamba-Nya sehingga mampu mengobati kesedihannya tatkala harus berpisah dengan bulan penuh berkah tersebut.

PUASA SYAWAL DIKERJAKAN SETELAH IDUL FITRI

Puasa Syawal dilakukan setelah hari raya idul fitri, bukan pada saat hari rayanya, karena berpuasa pada hari raya haram hukumnya.Dalam sebuah hadits riwayat Muslim dari Ummul Mukminin, Aisyah rahidyallahu ‘anha ia berkata:

نَهَىرَسُوْلُاللهِصَلَّىاللهعَلَيْهِوَسَلَّمَعَنْصَوْمَيْنِ: يَوْمِالْفِطْرِوَيَوْمِالأَضْحَى.

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang berpuasa pada dua hari raya: Idul Fitri dan Idul Adha.” (HR. Muslim)

PELAKSANAANNYA

Adapun pelaksanaannya, maka dibolehkan untuk berpuasa enam hari diawal,tengah maupun akhir bulan, baik secara berurutan atau terpisah, karena dalam hal ini terdapat kelonggaran. Namun, yang lebih baik adalah berpuasa secara berurutan dalam rangka bersegera untuk berbuat kebaikan dan tidak menunda-nunda sehingga berakibat dapat meninggalkan puasa Syawal yang penuh pahala ini.

 

QODHO’ DULU ATAU LANGSUNG BERPUASA

Satu hal yang perlu diperhatikan oleh setiap muslim, bahwasannya keutamaan puasa Syawal tidak akan diperoleh melainkan setelah ia menyelesaikan puasa Ramadhan. Oleh karena itu, apabila ada tanggungan puasa Ramadhan,maka hendaklah ia menggantinya (mengqodho’nya) terlebih dahulu,setelah itu baru berpuasa enam hari di bulan Syawal, sebab ibadah wajib lebih didahulukan daripada ibadah sunnah.

Apabila ia melaksanakan puasa Syawal dan belum mengganti tanggungan puasa Ramadhan, maka ia tidak mendapatkan keutamaan berpuasa selama setahun penuh, sebab Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

Barangsiapa berpuasa Ramadhan kemudian ia ….”

Sementara orang yang mempunyai tanggungan puasa Ramadhan tidak dikatakan berpuasa Ramadhan, namun berpuasa sebagian Ramadhan.

Inilah pendapat yang menurut kami paling kuat dengan dasar hadits Muslim di atas. Meskipun sebagian ulama ada yang membolehkan untuk didahulukan puasa enam hari di bulan Syawal, baru setelah itu berpuasa qodho’. Allahu a’lam.

 

MANFAAT PUASA SYAWAL

Puasa Syawal memiliki beberapa manfaat lain selain menyempurnakan balasan pahala berpuasa selama setahun. Di antaranya adalah menutupi kekurangan pada puasa wajib di bulan Ramadhan, sebab puasa Syawal ibarat sholat sunah yang menambal kekurangan pada sholat wajib. Setiap manusia seringkali mendapati kekurangan pada puasa Ramadhan sehingga membutuhkan amalan kebaikan untuk menutup dan menambalnya.

Puasa Syawal setelah bulan Ramadhan merupakan satu tanda diterimanya puasa yang dilakukan di bulan Ramadhan, karena apabila Allah subhanahu wa ta’ala menerima amal seorang hamba, maka Dia akan memberikan taufiq kepada hamba-Nya untuk melakukan amal shalih setelahnya. Hal ini sebagaimana dikatakan oleh sebagian ulama dahulu:

”Balasan kebaikan adalah kebaikan yang dilakukan setelahnya, barangsiapa melakukan amal shalih kemudian mengikutinya dengan amal kebaikan setelahnya, maka hal itu merupakan tanda diterimanya amal kebaikan yang pertama. Sebagaimana seorang yang melakukan amal kebaikan kemudian mengikutkannya dengan kejelekan, maka hal itu merupakan tanda ditolak dan tidak diterimanya amal kebaikan yang telah dilakukannya.”

Puasa Syawal merupakan salah satu bentuk rasa syukur seorang hamba kepada Rabb-nya atas limpahan taufik dan pertolongan-Nya sehingga mampu melaksanakan puasa wajib di bulan Ramadhan. Hal ini sebagaimana keadaan para pendahulu kita dari generasi terbaik umat ini, apabila Allah ta’ala memberikan taufik sehingga mereka mampu melaksanakan sholat malam, mereka menjadikan puasa keesokan harinya sebagai rasa syukur atas taufik yang telah diberikan pada mereka.

Ibnu Rajab al-Hambali rahimahullah menjelaskan rasa syukur ini lebih lanjut dalam kitabnya Latho`if al-Ma’arif, “Setiap nikmat dari Allah, baik dalam perkara agama maupun dunia, perlu untuk disyukuri. Dan taufik untuk bersyukur itu adalah suatu nikmat yang patut disyukuri dengan syukur yang kedua, kemudian taufik untuk bersyukur yang kedua kalinya tersebut merupakan nikmat lain yang juga patut untuk disyukuri dengan bentuk syukur yang lain,dan demikianlah seterusnya, hingga seorang hamba tidak mampu untuk mensyukuri setiap nikmat Allah ta’alasebab hakikat syukur adalah pengakuan seseorang akan kelemahan dan ketidakmampuannya untuk mensyukuri nikmat Allah dengan sempurna.”

Kita memohon kepada Allah taufik dan hidayah-Nya agar mampu melaksanakan semua perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya, serta mampu istiqomah di atas jalan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan orang yang mengikuti beliau dengan baik hingga akhir masa.

[Oleh: Nabil]

 

 

HAKEKAT TAKWA

Tolq bin Hubaib rahimahullah menjelaskan definisi takwa:

أَنْ تَعْمَلَ بِطَاعَةِ اللهِ، عَلَى نُوْرٍ مِنَ اللهِ، تَرْجُوْ ثَوَابَ اللهِ، وَأَنْ تَتْرُكَ مَعْصِيَةَ اللهِ، عَلَى نُوْرٍ مِنَ اللهِ، مَخَافَةَ عَذَابِ اللهِ.

“Engkau melaksanakan ketaatan kepada Allah, dengan cahaya dari Allah, seraya mengharap pahala dari Allah, dan engkau meninggalkan maksiat kepada Allah, dengan cahaya dari Allah, seraya takut akan siksa Allah.” (Tafsir Ibn Katsir di awal surat al-Ahzab)

 

download: BULETIN_AL-IMAN_TAHUN_2011-2012/01_TAHUN_PERTAMA/Edisi_35_No.35_Th.01_Syawwal_1432H_-_MARI_BERPUASA_ENAM_HARI_DI_BULAN_SYAWAL

Leave a Reply