Mungkin di antara kita ada yang sering mendengarkan nasihat melalui kajian ilmiah, khutbah jum’at ataupun ceramah yang lain tentang wajibnya merealisasikan keikhlasan dalam segala bentuk ibadah seorang hamba kepada Rabb-nya. Karena Allah ta’ala tidak akan menerima amalan seseorang kecuali dilandasi keikhlasan kepada-Nya semata. Jika ada kesyirikan dalam ibadahnya, maka Allah tidak akan menerima amalan tersebut dan bahkan akan terhapuslah amalannya. Sebagaimana firman Allah Jalla jalaluhu:

 Dan sesungguhnya telah diwahyukan kepadamu dan kepada (nabi-nabi) yang sebelummu. “Jika kamu mempersekutukan (Tuhan), niscaya akan hapuslah amalmu dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi. (QS. az-Zumar: 65)

Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata: Saya mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata: Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

أَنَاأَغْنَىالشُّرَكَاءِعَنِالشِّرْكِ،مَنَأَشْرَكَفِيْهِمَعِيْغَيْرِيْتَرَكْتُهُوَشِرْكَهُ.

“Saya sangat tidak membutuhkan sekutu-sekutu, barangsiapa yang berbuat syirik kepada-Ku maka akan aku tinggalkan ia dan sekutunya.” (HR. Muslim)

Mungkin di antara kita ada yang bertanya-tanya, bagaimana cara untuk memetik keikhlasan dari perbuatan yang kita lakukan. Karena sebagaimana yang kita ketahui bahwa mengikhlaskan ibadah kepada Allah semata merupakan perkara yang sulit, kenapa? Karena hati manusia berada di antara jari-jemari Allah, dan Allah berkehendak membolak-balikannya.

Maka itu Sufyan ats-Tsauri rahimahullah menyebutkan kepada kita bagaimana sulitnya memperbaiki niat. Ia berkata:

مَاعَالَجْتُشَيْئاًأَشَدَّعَلَيَّمِنْنِيَّتِيْ.

Tidak pernah aku mengobati sesuatu yang lebih berat bagiku dari pada niatku.

Berikut ini akan kami suguhkan kepada sidang pembaca beberapa cara untuk memetik dan memperoleh keikhlasan dalam ibadah. Agar ibadah yang kita lakukan tidak sia-sia atau menjadi debu yang bertebaran pada hari kiamat kelak, yang hanya melelahkan badan.Sebaliknya, ganjaran yang berlipat-lipat disisi Allah-lah yang kita harapkan.

 

(1). Meninggalkan pujian dan sanjungan manusia.

Wahai saudaraku seiman, tinggalkanlah dan buanglah pujian, sanjungan, dan penghormatan manusia. Jika engkau tamak terhadap pujian manusia atas apa yang engkau kerjakan, maka hal tersebut merupakan bencana bagimu.

Ibnul Qoyyim rahimahullah berkata: “Tidak akan berkumpul keikhlasan dalam hati dan kecintaan terhadap pujian, sanjungan dan tamak terhadap apa yang ada sisi manusia. Sebagaimana tidak akan bersatunya antara api dan air, dhobb (hewan yang hidup di Arab mirip dengan biawak) dan ikan paus.”

Ketahuilah wahai saudaraku, yang telah Allah azza wa jalla siapkan bagi hamba-Nya yang berupa kenikmatan surga dengan segala yang ada didalamnya yang tidak pernah dilihat mata, tidak pernah didengar di telinga dan tidak pernah terlintas dalam benak hati manusia jauh lebih baik dari apa yang mereka ucapkan.

 

(2). Doa agar senantiasa di jauhkan dari yang dapat membatalkan amalan.

Dari Anas bin Malik radiyallahu ‘anhu ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata dalam doanya:

اللَّهُمَّأَعُوْذُبِكَ …. مِنَالسُّمْعَةِوَالرِّيَاءِ.

Ya Allah, Aku memohon kepada-Mu dari sum’ah dan riya’. (HR. Hakim 1944 dan dishahihkan oleh Albani dalam Shohihul Jami’ no. 1285)

Sum’ah dan riya merupakan syirik tersembunyi yang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam khawatirkan atas umatnya dan beliau sifatkan seperti semut hitam yang berjalan di atas batu dalam kegelapan malam.

 

(3). Berteman dengan orang-orang yang ikhlas dan mengambil manfaat dari mereka.

Syaikh as-Sa’di rahimahullah berkata di dalam kitab tafsirnya Taisirul Karim ar-Rahman:  “Sesungguhnya perkataan, perbuatan, dan keadaan mereka (orang-orang yang ikhlas) selamat dari keinginan-keinginan buruk dan mengandung keikhlasan dan niat yang benar. Allah ta’ala berfirman:”

Dan bersabarlah kamu bersama dengan orang-orang yang menyeru Tuhan-nya di-

pagi dan senja hari dengan mengharap keridhaan-Nya. (QS. al-Kahfi 28)

Beliau rahimahullah melanjutkan: “Yaitu mereka yang bermaksud dalam ibadah mereka mengharap wajah Allah, bukan keinginan-keinginan selain itu.”

Ketahuilah sesungguhnya watak manusia itu diciptakan menyerupai dan mengikuti kepada siapa ia berteman. Karena dengan berteman dengan mereka akan memberikan pengaruh yang positif terhadap diri seseorang. Seorang penyair bersenandung:

وَصَاحِبْأُوْلِيالتَّقْوَىتَنَلْمِنْتُقَاهُمْ        وَلاَتُصَاحِبِالأَرْدَىفَتَرْدَىمَعَالرَّدِيّ

Bertemanlah dengan orang-orang yang bertaqwa maka engkau akan mendapatkan dari ketaqwaan mereka

Janganlah berteman dengan orang-orang yang buruk sebab mereka akan melemparkanmu dalam kebinasaan

 

(4). Membiasakan selalu untuk membaca sejarah orang-orang yang ikhlas dan orang-orang yang benar.

Ketahuilah wahai kaum mukmin, sesungguhnya dengan membaca sejarah orang-orang yang terdahulu yang shalih akan memberikan motivasi pada jiwa kita untuk mengikuti, mencontoh, meneladani gerak–gerik dan perbuatan mereka, memberikan cahaya pada hati kita untuk mengambil petunjuknya, dan mengambil manfaat dari perkataan-perkataan mereka. Karena perkataan mereka sedikit, tapi banyak mengandung barokah. Adapun selain mereka, perkataan mereka banyak, akan tetapi sedikit barokahnya.

 

(5). Memperbanyak amalan dikala sendiri.

Wahai saudaraku, ketika engkau ingin beramal baik kemudian terbetik dalam hatimu riya’ maka menjauhlah dari keramaian manusia, bersendirilah dalam beramal karena hal tersebut lebih baik dan mulia.

Dari Zubair bin Awwam radhiyallahu ‘anhu dari nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata:

مَنِاسْتَطَاعَمِنْكُمْأَنْيَكُوْنَلَهُخِبْىءٌمِنْعَمَلٍصَالِحٍ،فَلْيَفْعَلْ.

Barangsiapa di antara kalian yang ingin menyembunyikan amal shalih maka lakukanlah”. (Lihat: ash-Shahihah karya al-Albani  no. 2313)

Abu Hazim Salamah bin Dinar rahimahullah bertutur: “Sembunyikanlah perbuatan-perbuatan baik kalian sebagaimana kalian sembunyikan perbuatan-perbuatan buruk kalian.”

 

(6). Bersungguh-sungguh.

Allah subhanahu wa ta’alaberfirman:

“Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar- benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik.” (QS. al-Ankabut: 69)

Seorang muslim yang berusaha menggapai keikhlasan dalam ibadahnya dengan kesungguhan, niscaya Allah akan berikan jalan keikhlasan tersebut.

 

Kata Mutiara Seputar Ikhlas

Begitu banyak kata mutiara ulama salaf seputar keikhlasan yang berisi nasihat dan hal penting yang berkaitan dengannya. Berikut di antaranya:

“Ikhlas berarti lupa akan pandangan manusia lantaran selalu memandang kepada Allah semata.”

“Orang yang ikhlas adalah orang yang menyembunyikan kebaikannya sebagaimana ia menyembunyikan keburukannya.”

“Ikhlaskanlah niat dalam amalan-amalanmu, sebab amalan ikhlas meskipun sedikit sangat cukup bagimu.”

“Siapa yang menyatakan ikhlas dalam amalannya, sesungguhnya kata ikhlasnya itu butuh keikhlasan.”

“Mengikhlaskan niat adalah perkara yang paling sulit bagi orang yang beramal dari pada mengerjakan amalan-amalan.”

“Sesungguhnya aku begitu ingin agar niat selalu menghiasi seluruh amalanku, sampai-sampai dalam makan, minum dan tidurku.” (Kitab al-Ikhlas)

 

Penutup

Sepenggal penjelasan di atas semoga menjadi cambuk bagi kita untuk senantiasa ikhlas dalam setiap perbuatan dan perkataan. Kita memohon kepada Allah Rabb pemilik Arsy’ yang Agung untuk menjadikan diri kita sebagai hamba-hamba yang ikhlas. Amin.

[Oleh: Aulia Ramdanu]

 Download BULETIN_AL-IMAN_TAHUN_2011-2012/01_TAHUN_PERTAMA/Edisi_37_No.37_Th.01_Syawwal_1432H_-_MENGGAPAI_KEIKHLASAN.pdf

Leave a Reply